Kamis, 30 Mei 2013

Ketika Cinta Berkata TIDAK


@yuntrikristanti



Ketika rasamu telah menjauh
Tak lagi ku dapati sepenggal hati hadir untukku
Sepucuk senyum yang selalu ku dapati,
Kini lenyap sudah ditelan bumi
Tanpa pernah kau sadari
Sepenggal kisah masih menanti
Aku percaya dengan hatimu yang terbingkai indah dan tak tergoyah oleh nestapa
Tak mampukah kau percaya dengan relung jiwaku
Hatiku terluka dan tersia olehmu,
hingga pedih tak mampu beranjak pergi
Apa aku harus membasuh lukamu dengan sisa air mataku ?
Hingga kepedihan yang kurasa menjadi milik kita berdua.
Kini tiba saatnya kau melupakanku
Mungkin rasamu telah mati untukku
Aku jatuh . .
Aku lemah . . .
Terpuruk dalam tangis yang tak bertepi
Sejenak ku tersadar
Ini tak mungkin !
Ku sakit karenamu
Sepucuk surat untukmu
Teruntuk seorang yang datang atas nama cinta
“Maaf…”
“Aku belajar melupakanmu”
“mengikis kenangan antara kita”
“Sedalam apapun itu !”
“Karna ku tahu”
“Jalan cintamu tak lurus kearahku”

PERANG BALI



Perang Bali
By: @yuntrikristanti



Perang Bali berlangsung pada tahun 1846-1849.
Penyebab Perang Bali :
  1. Belanda menolak hukum Tawan Karang.
  2. Kerajaan Bali tidak mau memenuhi tuntutan Belanda untuk menghapuskan hukum Tawan Karang.
  3. Belanda menuntut agar kerajaan bali mengakui kekuasaan pemerintah Hindia-Belanda.
  4. Belanda minta  agar kerajaan Bali melindungi perdagangannya.
  5. Kerajaan Bali menolak untuk tunduk pada pemerintag Hindia-Belanda.

Perang Bali disebut juga perang Jagaraga, karena pusat pertahanannya berada di Jagaraga. Desa Jagaraga sangat strategis untuk pertahanan dan benteng “supit urang”. Benteng ini dikelilingi parit dengan ranjau yang dibuat dari bambu untuk menghambat gerakan musuh.

Latar Belakang
Tahun 1843 I Gusti Ngurah Made dan I Gusti Ketut Jelantik Gungsir memerintah kerajaan Buleleng dengan mencanangkan hak Tawan Karang. Yang berisi merampas perahu asing beserta isinya yang terdampar di wilayah kerajaan.

Pada tahun 1844 kapal Belanda terdampar di pantai Sangsit di wilayah Buleleng bagian timur. Dan kapal itu dikenakan Hak Tawan Karang. Asisten residen Banyuwangi, yaitu Ravia de Lignij, datang ke Bali untuk membuat perjanjian penghapusan hak Tawan Karang dan menuntut agar kerajaan-kerajaan di Bali tunduk pada kekuasaan Belanda. Tetapi raja Buleleng dan patihnya menolak kedua tuntutan itu.

Karena tuntutannya tidak diindahkan oleh Raja Buleleng,kemudian Belanda menggunakan dalih kejadian ini dan menyerang kerajaan Buleleng.pantai Buleleng diblokadekanan,istana Raja ditembaki dengan meriam dari pantai. Dan Belanda mendaratkan pasukannya di Buleleng. Disamping itu,Buleleng tidak dapat menghambat majunya laskar Belanda.

Akhirnya Belanda pada tanggal 24 Juni 1846 menyampaikan ultimatum kepada Raja Buleleng. Yakni dalam 3x24 jam Raja Buleleng harus mengakui kekuasaan dan melindungi perdagangan Belanda. Korbanpun berjatuhan,dan akhirnya Belanda dapat menduduki satu per satu daerah-daerah disekitar istana. I GUSTI MADE KARANGASEM menghadapi situasi ini kemudian mengambil siasat pura-pura  menyerah dan tunduk kepada Belanda.

Pada tanggal 27 Juni 1846, Belanda mendatangkan pasukan dan mendarat di pantai kerajaan Buleleng. Karena kalah dalam persenjataan, Belanda berhasil merebut benteng dan menduduki istana Buleleng. Raja Buleleng dan patih Jelantik mundur ke Benteng Jagaraga. Mereka mengadakan perjanjian perdamaian. Perjanjian itu hanya untuk mengatur siasat guna  mempersiapkan pasukan yang lebihbesar dan kuat. Kemudian mereka menyerbu pos-pos Belanda dan menyebut senjata mereka.

Pada bulan Maret 1848, Belanda mengirimkan kembali pasukan yang kedua dibawah pimpinan Mayor Jenderal Van der Wijk.
Mereka menuntut agar  Raja-raja Bali menyerahkan serdadu Belanda dan para tahanan yang melarikan diri, serta minta maaf. Merasa tuntutan diabaikan, jadilah pertempuran hebat. Pertempuran ini berhasil mendesak pasukan Bali, sehingga pasukan Bali mundur ke benteng jagaraga.Pasukan Bali memusatkan pertahanannya di benteng ini. Di Jagaraga ini tentara Bali berhasil menahan serangan tentara Belanda, bahkan tentara Belanda mundur kembali ke Pantai.

Pada tahun 1849 ekspedisi yang ke 3 dikirimkan kembali dengankeuatan kurang lebih 5000 pasukan, baik dari darat maupun laut. Tentara ini kembali mendarat di Buleleng. Dari buleleng kemudian menuju Singaraja untuk mengadakan perundingan – perundingan dengan kerajaan buleleng/karang asem. Perundingan mengalami kegagalan karna Belanda selalu menuntut agar Bali tunduk pada Belanda. Akibatnya, pertempuran meletus kembali dengan diserbunya Benteng Jagaraga oleh Belanda. Tentara Bali berusaha mempertahankan benteng Jagaraga, dengan semangat Perang Puputan, yakni perang habis-habisan sampai semua pasukan gugur. Akhirnya pasukan Belanda dibawah pimpinan Jendral Michaels berhasil merebut benteng Jagaraga.
Setelah itu, perlawanan sebenarnya masih tetap berlangsung, tetapi sudah tidak begitu berarti bagi Belanda. Sejak tahun 1849, Kerajaan-kerajaan Bali menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Hindia-Belanda.

Selasa, 02 April 2013

Live is Climb



AKU KAMU DAN KITA
Yutri Kristanti


Saat kita dipertemukan
Kita tertawa bersama
Menangis bersama
Dan terus bersama
Suka atau duka

Aku
Kamu
Dan kita...
Mencoba melangkah dengan senyuman
Tuk meraih sebuah impian
Berjuang demi sebuah kata
“MENANG”

Kala ku meraihnya,
Sebuah kerikil melukai kakiku
Sakit... dan akhirnya terjatuh
Impian itu pun runtuh

Kau datang menemuiku
Saat ku duduk dimeja tamu mengobati kakiku
Kau datang memotivasiku
Dan berkata
“hidup adalah sebuah pendakian,
Tapi itu pemandangan yang indah”

Ku cerna kata-kata itu dalam benakku
Yakin, percaya, dan terus berusaha
Berusaha terus mendaki!
Walau gunung satu tak terlampaui
Tapi masih banyak gunung yang dapat ku daki
Yakin!
Kita dapat dan bisa menakhlukan gunung-gunung itu
Percaya!
Kelak kita akan melihat pemandangan yang indah




Kamis, 24 Januari 2013

aAbBcC


Perlawanan rakyat Indonesia
terhadap pemerintah kolonial Belanda
by: yuntri kristanti

Pemerintahan kolonial Belanda tidak begitu memperhatikan kepentingan rakyat Indonesia,bahkan dengan praktik – praktiknya menyebabkan rakyat Indonesia sangat menderita. Akhirnya menimbulkan perlawanan, baik berupa perlawanan besar, pemberontakan, dan protes.
Diantaranya :
ü  Perlawanan pattimura,
ü  Perang padri,
ü  Perang diponegoro,
ü  Perang bali,                                      
ü  Perang banjar,
ü  Perang aceh,
ü  Perang Tapanuli / Batak ( 1878 – 1907 )

Penyebab terjadinya perang ini adalah :
  1. Raja Si Singamangaraja xii menentang dan menolak daerah kekuasaannya di Tapanuli Selatan di kuasai Belanda.
  1. Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica ( menguasai seluruh Hindia Belanda)

Karena igin mewujudkan Pax Netherlandica, yang dilakukan Belanda adalah dengan berlindung di balik  zending yang mengembangkan agama Kristen, dengan menempatkan pasukannya di Tarutung.
-          Pada bulan Februari 1878, Si Singamangaraja xii melancarkan serangannya terhadap pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung ( Tapanuli Utara ).
-          Pertempuran meluas sampai ke daerah Buntur, Balige, Si Borang-Borang, dan Lumban Julu. Pertempuran berlangsung selama 7 tahun.
-          Karena kekurangan persenjataan, akhirnya Si Singamangaraja xii semakin terdesak.
-          Dalam keadaan yang lemah, beliau pun kembali  melakukan perlawanan.
Pada saat itu juga Si Singamangaraja xii, dan seorang putrinya, Lapian serta dua putranya, Sultan Nagari, dan Patuan Anggi, gugur. Maka, seluruh daerah Batak jatuh ketangan Belanda……!!!!!

Perlawanan di Lombok (1894)


          Raja Lombok melakukan perlawanan karena dituntut menyerahkan putranya dan mengakui Belanda sebagai perantara menyelesaikan perselisihan raja dengan orang Sasak.
           Dalam pertempuran ini, seorang pimpinan Belanda Jenderal Van Ham tewas.
          Akhirnya, Lombok berhasil dikuasai pemerintah Hindia belanda.
          Tercatat dalam perang itu, Belanda mengalami kerugian yang paling besar di antara perang-perang lain di Indonesia.
           Hal ini dicatat langsung oleh saksi mata, C. Coeln dan dibukukan di negerinya dalam bahasa Inggris.
          Ternyata,  kebesaran perang Lombok lenyap,  tidak diapresiasi oleh generasi selanjutnya untuk sertamerta menghargai perjuangan para pahlawan pembela tanah air yang gugur membela tanah Lombok dari tangan penjajah. Karena sampai sekarang belum ada nama pahlawan yang dapat diajukan secara resmi untuk dijadikan pahlawan nasional.


PERANG BONE
Terjadinya perlawanan rakyat Sulawesi Selatan terhadap Belanda dikarenakan Belanda bermaksud ingin menghancurkan kekuasaan kerajaan yang belum mengakui kekuasaan Belanda di Sulawesi Selatan.
Belanda pernah melancarkan ekspedisi ke Bone pada tahun 1824 dan 1825, dan pada tahun 1838, perjanjian Bungaya diperbaharui.
Hubungan perdagangan antara
Makassar-Singapura mulai berkembang. Di pantai barat Sulawesi, penduduk Bugis yang tinggal di sana mulai membangkang meskipun sudah berulang kali Gubernur Sulawesi dan Taklukannya memprotes; GubJend. Jan Jacob Rochussen mengunjungi Bone pada tahun 1849 namun tidak berhasil mengakhiri ketegangan yang sedang terjadi.
 Atas hal ini, ia menulis dalam sebuah laporan bahwa perang dengan Bone akan dikumandangkan sebentar lagi karena orang Bone harus menisbatkan politik damai dari pemerintah atas kelemahan itu dan menunjukkan keinginan menguasai suatu tempat di
Teluk Bone, agar negeri itu tetap mudah dikendalikan.
Ekspedisi besar-besaran dilancarkan di bawah pimpinan MayJend. Jozef van Geen di saat bersamaan ia diangkat sebagai Komisaris Pertama Urusan Celebes dan Tobias dan Van Schelle, pegawai negeri sipil, disertakan untuk membantunya.
Pasukan ekspedisi itu terdiri atas 4.100 orang, di mana 2.200 adalah serdadu, 1.100 pasukan dari Sumenep dan 800 jiwa dari pasukan penolong dari sejumlah negeri di Sulawesi yang menjadi antek Belanda; armada tersebut dipimpin oleh Kapt. Pietersen dan terdiri atas 7 kapal perang, 3 perahu meriam dan perahu panjang bersenjata.
Pada tanggal 20 Januari 1825, Van Geen menerima jabatan komando tinggi dan seminggu kemudian tibalah kapal Louisa bersama komandan dan staf dari Makassar.
Teluk Bone dipelajari dengan baik dan pantainya dijelajahi. Dengan letak seperti itu, taruna kelas I ,Jan Carel Josephus van Speijk menandainya.
Ekspedisi berlanjut ke Bantaeng dan Bulukumba dan semua benteng ditaklukkan, armada tersebut melanjutkan perjalanan ke Bone, di mana angkatan Bone telah berkumpul di Sinjai. Sekarang serangan di sayap (dipimpin oleh May.
Gey van Pittius) dilancarkan, dan orang Bone dihalau, namun berkelompok di mana-mana dan menebar ancaman untuk memotong jalur pulang, barulah mereka dapat dihalau oleh panah api dari perahu-perahu yang dipimpin oleh Zoutman.

Selanjutnya terjadi serangkaian ekspedisi pengintaian dan penyebuan dan pada tanggal 18 Februari serangan ditujukan ke ibukota Bone namun gerakan ini terpecah di tengah jalan karena daerah itu tak dapat ditembus. Steinmetz terkena tembakan di lengan dan komando harus dialihkan ke tangan kolonel infanteri Jacobus Antony Waleson, sementara LetKol. Kellerman diangkat sebagai wakil komandan. Dengan berbagai kesulitan itu, pasukan berjalan ke kampung Lona; berkali-kali serangan ke ibukota tertunda akibat cuaca buruk namun akhirnya serangan berlalu pada tanggal 28 Februari dan tiba di ibukota yang sudah dikosongkan oleh penduduknya. Pengintaian daerah itu dilakukan, namun tak menemukan musuh dan pasukan kembali ke Bajoe, dan di sini didirikan pertahanan tetap.

Pada tanggal 29 Maret keadaan begitu gawat karena penyakit  sehingga ekspedisi mulai dipertimbangkan untuk dihentikan. Penyakit kolera juga mulai menyerang prajuri. Komandan pasukan menyerukan panglima tertinggi Waleson melalui surat untuk tetap di Bone dan sekarang memanggil dewan perang bersama, yang bersepakat untuk kembali ke Batavia (Jakarta) karena keadaan kesehatan yang buruk. Secara keseluruhan, ekspedisi ini gagal karena tidak ada keputusan politik apapun dan para pejuang Bone masih belum terkalahkan
PERLAWANAN RAKYAT DI BONE
          Perlawanan yang terkenal dalam menentang kolonialisme Belanda adalah Perang Lampung (Lampong Oorlog) pada abad ke-19 yang dilancarkan oleh Radin Intan dari Kalianda selama 30 tahun (1826-1856), sezaman dengan Perang Jawa dari Pangeran Diponegoro serta Perang Paderi dari Tuanku Imam Bonjol. Perang Lampung berakhir dengan gugurnya Radin Intan. Kini Radin Intan telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.
          Selanjutnya, perlawanan diteruskan oleh Raden Imba Kusuma ( 1832 ), dan Raden Intan 2 ( 1834 ).
          Pada tahun 1917 daerah Lampung dibagi menjadi dua afdeling dan enam onderafdeling. Pertama, Afdeling Teluk Betung yang meliputi Onderafdeling Teluk Betung, Semangka, dan Katimbang. Kedua, Afdeling Tulang Bawang yang meliputi Onderafdeling Tulang Bawang, Seputih, dan Sekampung.

          Pada tahun 1819 – 1825 perlawanan dipimpin oleh Sultan Najamuddin kemudian dilanjutkan oleh Sultan Badaruddin.

Protes para Petani
Penyebab :
 karena adanya praktik pemerasan dan penindasan yang dilakukan oleh para penguasa, khususnya dalam menjalankan pungutan pajak, kerja paksa, dan penyewaan tanah, sehingga menyebabkan rakyat menderita.
1.  Ciomas dan Ciampea
      di bawah pimpinan Mohammad Idris.
2.  Purwakarta
      Pada tahun 1913, 400 petani beramai – ramai     mendatangi bupati menuntut pengurangan pungutan cukai yang sangat berat.
3.  Babakan sawah
     Pada bulan Januari 1913 juga melakukan protes tentang pengukuran tanah dipimpin oleh Eming.

4.  Condet, Surabaya
     Pada tahun 1916 juga terjadi protes dibawah pimpinan Enteng Gendut.
5.   Tangerang
      Pada tahun 1924 di bawah pimpinan Kaiin.
6.   Sidoarjo
      Pada tahun 1903 dibawah pimpinan Kyai Kasan Mukmin.
7.   Kediri
      Pada tahun 1907 dibawah pimpinan Kyai Dermodjoja.
Tujuan Protes para Petani :
-          Menentang penindasan dan pemerasan.
-          Menginginkan perbaikan sistem pemungutan tanah.